Perempuan di Simpang Jannah

By Claudia - 3/10/2026 05:35:00 AM

 

Sekar menghela nafas, pandangannya jauh menatap padatnya jalanan sore hari dari jendela kantornya di lantai 3. Angin dari utara membawa aroma tanah basah dan daun jati yang luruh. Di kejauhan, sirine ambulans terdengar samar, menyusuri jalan Ring Road yang tak pernah benar-benar sepi. Sore itu Yogyakarta tak lagi terasa seperti kota mahasiswa, lebih mirip jantung yang berdetak terlalu cepat; penuh ide, tapi lelah menahan denyutnya sendiri. 

 Sudah dua pekan ini ia menerima pesan tanpa nama. Awalnya hanya kutipan ayat tanpa konteks, tanpa salam, namun lama-lama berubah menjadi kalimat-kalimat pendek, keras, menuduh tulisan-tulisannya sebagai bentuk pembangkangan. Sekar kembali menatap pesan di layar ponselnya, “perempuan yang kebanyakan bicara, kadang lupa di mana tempatnya.” Kopi dingin di tangannya tetap separuh, pahitnya melekat di lidah seperti kata-kata itu sendiri, mengintai, menempel dan menuntut berhitung dengan rasa kecamuk yang tak pernah ia panggil. Ia tersenyum kecut. Di layar ponselnya, notifikasi dari media kampus masih ramai, esainya baru dimuat di kolom opini “Islam dan Ruang Publik Perempuan.” Tulisan yang ia kira sederhana membahas bagaimana Islam menempatkan perempuan bukan sebagai objek, tapi subyek yang berpikir, memilih, dan menafsir, ternyata mengundang begitu banyak debat, bahkan ancaman halus dari kelompok yang menamakan diri ‘penjaga moral kampus’. 

 “Mbak Sekar, anda sudah membaca komentar di portal berita lokal? Wah, rame tenan. Ada yang bilang kalau mbak melawan kodrat. Ini bukan cuma soal opini akademik, tapi masalah persepsi orang-orang yang masih takut dengan gagasan perempuan.” 

 Ratih, dosen muda dua tahun di bawah Sekar, yang juga mengajar di fakultas psikologi, menaruh map di meja sambil menyelipkan senyum tipis, antara kagum dan cemas melihat permasalahan yang baru saja menimpa seniornya. 

 Sekar mematikan layar laptopnya, napasnya berat namun masih menyunggingkan senyum tipis, senyum yang lebih menyerupai retakan kaca daripada kebahagiaan. “Ya, aku baca, tapi sudah biasa. Dulu waktu nulis soal kekerasan dalam rumah tangga pun dibilang merusak tatanan keluarga to. Aku justru mau mengingatkan, Islam itu ora menindas. Eh, tapi gak semua orang siap menerima kebebasan berpikirnya seorang perempuan.” 

 Ratih mengenal baik bagaimana Sekar. Mereka diam sejenak. Ditengah keheningan, Sekar membayangkan dirinya sebagai lentera, cahaya yang kadang menyilaukan mata orang-orang yang belum siap melihatnya. Lentera itu berdiri sendiri, di tengah ruangan yang sepi tapi penuh desas-desus. Kadang, ia merasa letih tapi juga sadar bahwa keheningan yang menekan lebih berbahaya daripada cahaya yang menantang. 

 Ia menyesap kopi dinginnya lagi, menikmati setiap pahit manisnya yang mewakili perasaannya kali ini, pahit mengingat kata-kata tajam yang tak bisa dihidarinya, manis seperti harapan kecil yang tetap menguatkannya di tengah kegelisahan. Sekar menarik napas panjang, membiarkan rasa itu meresap, menenangkan sekaligus membakar. 

 “Perempuan yang paham ayat bisa jadi lentera. Tapi lentera itu kadang dibenci karena cahayanya terlalu terang.” Kata-kata ustadzahnya saat mondok di Magelang dulu terulang kembali di kepalanya, seperti mantra yang menuntun langkahnya. Lentera bukan tentang keberanian yang sia-sia, namun tentang tanggung jawab untuk menyalakan cahaya meski bayangan iri dan takut selalu mengintai. 

 “Kamu tidak sendiri mbak, masih ada orang-orang yang ngerti dan ndukung. Tapi kamu yo kudu paham, tekanan ini bukan cuma dari komentar online, tapi dari cara masyarakat menetapkan apa yang mereka anggap benar dan salah bagi perempuan.” Suara pelan namun tegas dari Ratih yang membuyarkan lamunan Sekar. Sekar menatapnya masih dengan senyuman manis, khas Sekar, dengan mata berkaca-kaca dibalik kaca matanya, bukan karena takut tapi karena menyadari kenyataan bahwa menjadi perempuan yang berpikir di tengah norma sosial dan tafsir agama yang kaku berarti harus siap menanggung keheningan, bisik-bisik, dan bahkan kemarahan yang terselubung. 

 “Dan aku memilih...” kata Sekar pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desah angin sore, “...memilih jadi lentera. Gak gampang, Tih, tapi akan lebih buruk misal aku cuma jadi kegelapan sing gak ngerti dimana cahaya berada.” 

 Ratih mengangguk, diam. Di antara mereka ada ruang hening yang penuh dengan kata kata yang tak terucap, tapi bisa dirasakan, tentang keberanian, tanggung jawab, dan harga kebebasan berpikir perempuan. 

 === 

 Beberapa hari kemudian, undangan datang, Sekar diminta menjadi pembicara dalam seminar bertema “Perempuan dan Kepemimpinan dalam Islam.” Acara itu diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa, sebagian besar aktivis keagamaan, yang sudah terbiasa mempertahankan tafsir dan norma. Sekar menatap undangan itu dengan tenang, tapi hatinya tak bisa bohong, ia berdebar, takut sekaligus siap. Lentara itu akan menyala di ruang yang penuh pengawasan. 

 Kebaya abu-abu menempel rapi di tubuhnya, dengan dipadukan kerudung hitam polos menutup rambutnya dengan sederhana, namun memancarkan keayuan yang tenang dan memikat. Suaranya tenang, matanya menembus setiap tatapan di barisan depan, seolah membaca ketidakpastian yang tersimpan. 

 “Sering kita lupa bahwa manusia pertama yang beriman kepada nabi adalah ibunda Khadijah, bukan Abu Bakar. Bahwa perempuan pertama yang gugur di jalan Islam juga perempuan, Sumayyah. Bahwa ada seorang Shafiyyah binti Abdul Muthalib, sahabat perempuan yang dikenal karena keberanian, kecerdasan, keberanian, dan keteguhannya. Tapi sejarah yang ditulis manusia sering memilih diam pada bagian itu.” 

 Beberapa wajah menegang. Ada yang mencatat dengan cermat, namun tak sedikit yang berbisik sambil menekan tasbih digital, seolah kata-kata Sekar menantang persepsi lama mereka. Sekar menatap mereka tenang, tanpa menuntut persetujuan, hanya menabur cahaya perlahan. 

 “Islam, dalam makna terdalamnya, bukan soal menundukkan perempuan, tapi keseimbangan. Laki-laki dan perempuan ibarat dua sayap dari burung yang sama; satu memberi arah, satu memberi kekuatan dan keduanya harus bergerak bersama agar burung tetap terbang. Laki-laki boleh memimpin sebagaimana kodratnya, namun perempuan juga diberi amanah untuk memimpin, berpikir, menafsirkan, dan mengambil keputusan ketika situasi menuntut. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan.” Sekar menahan sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Beberapa tangan berhenti menulis, beberapa wajah tetap tegang, tapi ada kilatan pemahaman yang samar di mata mereka. 

 Usai acara, seorang mahasiswa berjubah putih mendekatinya. Namanya Fadhil, anggota kelompok dakwah kampus yang dikenal vokal. Suaranya pelan tapi tegas, mengagetkan Sekar yang sedang membasahi kerongkongannya. 

 “Ibu Sekar, saya menghargai pendapat anda. Tapi apakah anda yakin perempuan pantas memimpin dalam urusan agama?” 

 Sekar menatapnya dalam, membaca keraguan yang terselubung di balik tatapannya. 

 “Mas Fadhil, kepemimpinann itu soal amanah, bukan kelamin. Tapi memang, tafsir selalu jadi arena tarik-menarik.” 

 “Tafsir bisa menyesatkan kalau tidak dikawal niat.” Fadhil menunduk, suaranya melembut. 

 “Dan niat bisa menindas kalau tidak disertai empati.” Sekar tersenyum samar, menenangkan sekaligus menegur dengan halus. 

 Mereka berdiam sejenak, saling menatap. Tak ada yang menang, tak ada yang kalah. Dialog itu menandai pertemuan dua zaman, antara yang ingin menjaga dan yang ingin membuka. Sekar tahu, cahaya lentera kadang menimbulkan bayangan, tapi bayangan itu bukan alasan untuk memadamkan cahaya. 

 Di perjalanan pulang, ia menatap langit sore yang temaram, aroma tanah basah dan dedaunan tersapu hujan menyelinap di udara. Es kopi susu favoritnya lagi-lagi menjadi teman di perjalanan pulangnya kali ini. Rasa khasnya merefleksikan gagasan yang ia sampaikan, keras tapi menenangkan, menusuk tapi memberi harapan. Ia tersenyum, samar namun tegas, sambil memacu mobilnya ke kampung ibunya di Sleman utara. Setiap kali debat seperti itu selesai, Sekar suka pergi ke sana, membiarkan hidup berjalan pelan. 

 Suara kentongan mushola, aroma jenang yang sedang dimasak tetangga, dan anak-anak yang masih bermain di sawah. Semuanya sederhana, namun menenangkan hatinya. Di warung kopi kecil yang berhadapan dekat dengan rumah ibunya, paklik Suhar menyapanya ramah,

 “Wah, nduk Sekar, sekarang sering muncul di TV yo? Jadi panutan perempuan kota.” 

 “Panutan pripun to Paklik? Kula nggih taksih belajar menata rasa dan iman.” Sekar tertawa ringan. 

 “Kalau perempuan sekarang pinter-pinter, ya bagus. Tapi jangan sampai kehilangan kerendahan hati. Dulu orang-orang mengikuti agama dengan sederhana, sekarang malah debat karo ustadz.” Paklik Suhar menatap dengan pandangan khas orang tua desa—antara kagum dan heran. 

 “Niki bukan sekedar debat, Paklik. Niki usaha mengingatkan, agama itu tidak bisa dipahami secara singkat atau setengah-setengah. Kadang, patuh tanpa mengerti justru bisa berbahaya.” 

 Paklik menatapnya lama, matanya seolah menimbang setiap kata, “Paklik paham, nduk. Tapi paklik ini orang desa, yo kadang bingung, bagi kami yang hidupnya sederhana bagaimana jadinya? Kalau semuanya dipikir pakai akal, bisa kehilangan rasa.” 

 Sekar tersenyum tipis, namun manis, mengangguk pelan, “Nggih Paklik. Makanya kula mboten memaksa. Hanya ingin menabur cahaya, pelan, biar orang bisa melihat sedikit demi sedikit. Kadang, yang perlu hanya memahami, bukan langsung setuju atau menolak. Leres to, Paklik?” 

 Paklik Suhar mengangguk lagi, kali ini lebih tenang. Mereka duduk beberapa saat dalam keheningan, membiarkan suasana desa memberi ruang untuk mentari kembali ke peraduannya. Sisa sore itu terasa seperti ruang hening yang berbicara sendiri, tanpa kata penuh rasa hormat dan pemahaman. Sekar tahu, sebagian orang tidak menentangnya bukan karena benci, tapi karena takut kehilangan makna yang selama ini mereka pahami, makna yang telah menuntun hidup mereka sepanjang waktu. Di kampung itu, ia merasa kembali menemukan keseimbangan. Lentera itu tetap menyala, bahkan di tengah keheningan yang sederhana. 

 === 

 Sekar kembali menjalani harinya seperti biasa, berjalan di koridor yang sama di mana ia biasa meniti hari-hari sebagai dosen. Suasana kampus tenang, namun tetap ada saja bisik bisik yang tersisa dari berita viral beberapa hari lalu. Beberapa mahasiswa menatapnya diam, menyapanya sebagai bentuk formalitas, dan sebagian lagi menunduk saat bertemu matanya. Sekar menghirup udara pagi, berusaha menenangkan diri. 

 Di ruang kerjanya, Ratih menunggu dengan beberapa dokumen. “Mbak, aku baca lagi beberapa komentar di portal fakultas.” Katanya pelan. “Ada yang mendukung, tapi tak sedikit yang mempertanyakan kredibilitasmu, bahkan niatmu.”

 Sekar menatap Ratih sambil menyeruput teh chamomile hangat. Ia tersenyum samar. “Tenanglah Tih, aku sudah terbiasa. Dunia akademik itu tempat untuk berpikir, bukan hanya untuk diterima. Aku tidak menulis untuk disukai, tapi untuk menyalakan pertanyaan di kepala orang.” 

 “Tapi ini soal tafsir dan agama. Bukan sekedar psikologi atau sosiologi. Aku khawatir. Beberapa orang bisa tersinggung meski niatmu baik.” 

 Sekar menunduk sejenak, dan tersenyum, menatap ke Ratih, memastikan ia baik-baik saja, dan Ratih tidak perlu sebegitu mengkhawatirkannya. “Aku tahu, Tih. Aku tidak melawan, cuma membuka ruang berpikir. Sing tenang. Wes nanti lagi, aku harus masuk kelas sebelum mereka berpikir dosennya kabur dari realitas. Hahaha.” 

 Dengan langkah cepat menuju ruang kuliah di lantai dua, Sekar menenteng map berisi catatan tentang psikologi perkembangan dewasa awal yang akan disampaikannya pagi ini, tapi pikirannya belum sepenuhnya lepas dari perbincangannya dengan Ratih barusan, kalimat-kalimat itu masih menggantung di kepalanya seperti gema yang belum menemukan dinding untuk berhenti. 

 Begitu memasuki kelas, riuh obrolan mahasiswa perlahan mereda. Sekar menatap mereka satu persatu, sebagian sudah siap dengan laptop terbuka, sebagian masih sibuk menutup sisa roti di tangan. Ia meletakkan mapnya di meja, menarik napas pelan, lalu tersenyum. “Baik, sebelum kita bicara soal dewasa awal, coba jawab dulu, menurut kalian, kapan seseorang benar-benar dewasa?” 

 Beberapa tangan terangkat ragu, beberapa saling pandang, menunggu siapa yang berani lebih dulu. Di sela diam itu, Sekar menatap mereka dengan mata yang tenang tapi dalam, mengatakan dalam diam bahwa pertanyaan itu bukan untuk menguji, melainkan untuk mengajak mereka menengok diri sendiri. 

 “Dewasa itu...,” kata seorang mahasiswa laki-laki di baris depan, “...saat kita bisa mengambil keputusan tanpa campur tangan orang lain.” 

 “Menarik. Tapi bagaimana kalau keputusan itu ternyata salah? Apakah kemandirian tanpa refleksi masih bisa disebut kedewasaan?” Sekar menanggapi sambil menatap kearah mahasiswa itu. 

 Kelas diam, ia berjalan pelan ke arah jendela, membiarkan cahaya matahari menimpa ruangan. “Menjadi dewasa bukan hanya soal berani memilih, tapi juga berani menanggung, memahami, dan memaafkan, termasuk ke diri sendiri.” 

 “Ibu Sekar, apakah memaafkan diri sendiri termasuk memaafkan pilihan yang tidak disetujui orang lain?” Tiba-tiba ada suara barisan tengah mengagetkan Sekar, sedikit tertegun ia menoleh ke pemilik suara. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi nadanya mengandung sesuatu yang lebih dalam, seperti gema dari perdebatan yang baru saja ia alami. 

 Mahasiswi itu melanjutkan, suaranya tenang tapi menggigit, “misalnya, saat seseorang mengambil jalan yang menurut keyakinannya benar, tapi lingkungan atau bahkan agamanya belum tentu setuju, apakah tetap bisa disebut dewasa, Bu, kalau dia tetap pada pendiriannya?” 

 Semua mahasiswa lain mulai menoleh, suasana berubah hening tapi bukan karena takut, lebih karena merasa ada sesuatu yang nyata sedang dibicarakan. Sekar menatap mahasiswi itu lama, tidak dengan keinginan untuk membantah, melainkan dengan rasa haru yang samar. 

 “Pertanyaan bagus,” katanya menanggapi. Ia menutup mapnya, berjalan pelan ke depan kelas, lalu bersandar di meja. “Kadang, menjadi dewasa memang berarti siap disalahpahami. Tapi kedewasaan sejati bukan tentang siapa yang menang dalam keyakinan, melainkan bagaimana kita menjaga kemanusiaan di tengan keyakinan itu.” 

 Ia berhenti sebentar, menatap ke arah mahasiswi tadi dan menyebar pandang ke seluruh ruangan. “Kalau keputusanmu lahir dari pemahaman, bukan sekedar pembelaan, dan hatimu tetap punya ruang untuk mendengar, maka kamu tidak sedang melawan, kamu sedang bertumbuh.” 

 Kelas terdiam lagi, ada keheningan yang tidak kaku, diam yang hangat, semacam jeda penuh pikiran. Sekar tahu, kata-katanya barusan bukan hanya untuk mahasiswi itu, melainkan untuk dirinya sendiri juga. Yang sedang dia ajarkan bukan hanya tentang teori perkembangan, tetapi juga tentang cara manusia bertumbuh di tengah dunia yang sering tidak memberi ruang untuk salah. 

 Tepuk tangan yang tak terlalu ramai namun hangat menandai berakhirnya kelas yang Sekar ampu. Beberapa mahasiswa menghapiri Sekar, menyalami dengan mata berbinar. Ia membalas senyum, namun di dada masih ada getar samar. 

 Sekar menemukan selembar surat di mejanya. Kop kampus tertera di pojok kiri atas, berisi undangan rapat dari pihak dekanat. Bahasanya formal, tapi Sekar tahu nadanya, “evaluasi kegiatan dan tulisan dosen di media publik.” Ia tak kaget. Hanya menghela napas panjang, sembari ia membuka jendela, membiarkan angin kampus membawa aroma hujan yang baru reda. 

 Rapat keesokan harinya berlangsung di ruang ber-AC, dengan tembok berwarna gading yang entah kenapa terasa seperti jarak. Dekan berbicara pelan, sopan, namun jelas. “Ibu Sekar, tulisan anda bagus, tapi terlalu sensitif untuk konteks kampus. Banyak pihak yang merasa tidak nyaman.” 

 Sekar menatap meja kayu di hadapannya. Ada goresan pena lama entah dari siapa, seperti sisa pikiran yang tak sempat diselesaikan. “Apakah maksud Bapak, ketidaknyamanan itu tanda saya salah menulis?” 

 “Saya hanya ingin anda lebih barhati-hati. Kita ini lembaga, Ibu Sekar. Dan lembaga punya batas.” Dekan tersenyum canggung. Kata “batas” itu bergema lama di kepalanya. Ia tahu, lembaga memang butuh tatanan. Tapi ia juga tahu, setiap tatanan menyisakan ruang sempit untuk bernapas. 

 Sesungguhnya ruangan tidak sesempit itu, tapi karena suasananya, Sekar merasa ruangan begitu sempit. Dia belajar bertaham, ia mengingat istilah yang sering ia bahas di kelas, invisible cage, sangkar yang tak terlihat tapi dirasakan. Tidak ada rantai, tidak ada kunci, hanya norma yang membungkus dalam bahasa sopan, kehati-hatian, kesantunan, dan loyalitas pada sistem. 

 Sekar memandangi tangan dekan yang kini sibuk merapikan map. Gerakannya lembut, tapi penuh jarak, seolah sedang menutup percakapan yang tak perlu berlanjut. Ia ingin bertanya, sejak kapan berpikir harus disetujui dulu baru boleh diucapkan. Tapi ia tahu, kalimat seperti itu tidak akan menemukan ruang di ruangan ber-AC ini. 

 “Baik Pak, saya akan lebih berhati-hati.” Jawab Sekar dengan anggukan kecil, sopan. Suaranya terdengar kompromi, tapi di dalam dirinya ada sesuatu yang tidak ikut tunduk. Ia merasa tenang, tapi bukan pasrah, seperti seseorang yang tahu, tidak semua bentuk keberanian perlu diumumkan dengan suara keras. 

 Lorong fakultas terasa lebih panjang dari biasanya saat Sekar keluar tanpa banyak kata dari ruang rapat itu. Mahasiswa berseliweran dengan kegiatannya masing-masing, ada yang tertawa, membawa buku dan es kopi susu viral, atau fokus pada gadget yang sedang mereka pegang, sementara Sekar berjalan perlahan, seolah tiap langkahnya sedang menimbang sesuatu. 

 Di taman kecil belakang fakultas, ia berhenti. Di bangku besi yang sedikit berkarat itu ia duduk menikmati langit yang mulai menjingga, matanya menatap pohon flamboyan yang sedang berbunga. Ia menghela napas, mengeluarkan beban yang ia pikul. Sekar memejamkan mata sebentar, angin sepoi sore hari menyapu pipinya, membawa aroma tanah. Suara tawa mahasiswa dari kejauhan terdengar seperti gema kehidupan yang tak pernah benar-benar berhenti. Ia membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah, tentang batas, napas, dan tentang dirinya sendiri yang perlahan belajar berdamai dengan keduanya. 

 “Mbak, aku dengar kamu dipanggil pak dekan yo. Kamu baik-baik saja to?” ponselnya bergetar, pesan dari Ratih. 

 Sekar menatap layar ponselnya sebentar, lalu menaruhnya di dasbor mobil. “Baik. Aku cuma diingatkan, bukan diminta padam.” Balasan singkat tapi tenang. 

 Ia menyalakan mesin, lalu melaju pelan keluar dari halaman kampus. Jalanan padat, namun tak sampai membuatnya tersendat. Hati yang tadi terasa berat kini mulai melunak, bukan karena semua masalah selesai, tapi karena ia menyadari satu hal sederhana, memilih jalan tidak selalu soal menang atau kalah, tapi soal keberanian tetap ada meski tak semua setuju. 

 Di sebuah warung kecil yang selalu ia lewati, Sekar berhenti, memesan menu andalannya untuk dibawa pulang, ayam penyet sambel bawang. Aroma sambal dan rempah menembus kabin mobil, membuatnya tersenyum tipis. Hal-hal kecil seperti ini—rasa hangat makanan, mobil yang melaju pelan, matahari yang menurun perlahan—membuatnya merasa hidup tetap berjalan meski dunia kadang menuntut kompromi. 

 Di perjalanan pulang, lampu jalan yang mulai menyala tampak seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi. Sekar menatap jalan, sambil memikirkan esai-esai berikutnya yang belum ia tulis, kelas yang harus ia ajar besok, dan percakapannya dengan Ratih, Paklik Suhar, mahasiswanya, bahkan dekan. Semua tumpah ruah di kepalanya, tapi kini terasa tidak menekan, hanya menantang untuk dijawab perlahan dengan cahayanya sendiri. 

 Sekar tersenyum tipis. Ia tahu, menjadi perempuan bukan soal melawan atau tunduk, tapi terus berjalan di antara keduanya, menemukan keseimbangan yang disebut keberanian. Setiap persimpangan jalan, lampu merah, terasa seperti simbol pilihan hidup yang harus diambil dengan tenang. Bahkan ketika dunia menuntut batas dan norma, ia masih bisa menapaki jalannya sendiri, entah menuju mana. Mungkin Jannah, mungkin hanya simpang yang tak bernama. Tapi langkahnya mantap, seperti perempuan yang berdamai dengan sunyi, dengan pikirannya sendiri, dan dengan Tuhan yang tak pernah menutup pintu bagi siapapun yang mencari. 

 Ia menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar di pemberhentian lalu lintas, membiarkan sore menembus kabin mobil. Laptop di rumah menunggu, kertas kosong siap disentuh, tapi Sekar tidak terburu-buru. Ia menikmati semuanya, merasakan getaran dunia yang berjalan pelan di sekitarnya: suara burung, daun yang bergoyang, dan musisi jalanan yang memainkan nada-nada lirih, khas Yogyakarta. Semua seperti menyusun simfoni kecil yang hanya bisa didengar oleh yang mau menenangkan diri. 

 Sekar hanya membiarkan senja mengalir di dalam kabin, mengalir di dalam dirinya, dan di sanalah ia duduk, seolah setiap detik yang berlalu adalah jawaban sendiri, diam tapi pasti. Dunia tetap bergerak, cahaya tetap ada, dan ia—di persimpangan yang tak bernama— hanya melanjutkan langkahnya, pelan tapi yakin, menapak jalan yang hanya ia yang tahu arah dan tujuannya.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments:

Terima kasih sekali sudah sempatkan membaca sampai akhir. Aku harap ada hal baik yang kamu dapatkan. Kamu boleh cantumkan blog-mu, agar aku juga bisa mampir kesana 🤎